Ketulusan Hati

     Ada benarnya juga kalau kita ingat pepatah “Tua itu pasti, tapi dewasa itu pilihan”. Betapa tidak, terkadang pelajaran hidup tidak hanya kita dapatkan dari seseorang yang lebih tua karena dianggap telah mempunyai banyak asam garam kehidupan. Tetapi adakalanya bisa juga kita dapatkan dari orang yang lebih muda dari kita, bahkan dari seorang anak kecil sekalipun.
     Suatu hari, seorang anak secara tidak sengaja membuka lemari pakaian ibunya. Di sana dia melihat setumpuk baju yang sudah mulai usang, bahkan ada beberapa yang sudah ditambal. Secara spontan dia berkata,”Mama, bajunya kok udah pada jelek sih.” Kemudian Ibunya menjawab,”tidak apa-apa nak, yang penting masih bisa dipakai kan sayang.” Anak tersebut terdiam, mencoba mencerna apa yang Ibunya katakan. “Mama, kalau begitu nanti teteh belikan baju yang banyak ya buat mama,”lanjutnya.
     Ibunya terdiam, tertegun atau lebih tepatnya bengong mendengar jawaban anaknya. Dia pandangi anaknya, berusaha mencoba mencerna pikirannya apakah yang dikatakan itu spontan ataukah dibuat-buat. Sungguh Ibunya tidak menyangka dan mengira, anak usia tiga tahun bisa berkata seperti demikian. Padahal Ia merasa tidak pernah mengajarinya. Tetapi, apa yang Ia dapat dari sorot matanya. Sebuah keseriusan dan dalam hal ini dia tidak sedang bercanda.
     “Kenapa Mama diam saja?”tanyanya. Ibunya hanya tersenyum, bingung harus menjawab apa. Anaknya berkata lagi sambil tersenyum,”Mama, tidak usah sedih ya, jangan khawatir, kakak akan belikan Mama baju yang bagus ya.” Sambil tersenyum, Ibunya berkata kepadanya,”Emang kakak punya uang sampai mau belikan mama baju.” Spontan dia menjawab,”Kakak punya kok ma.” Anak itu pun beranjak dari tempatnya untuk mengambil dompet kesayangannya yang memang sengaja diisi uang seribuan satu lembar buat jaga-jaga kalau dia mau jajan bersama teman-temannya di sekolah. Dengan bersemangat dia berkata lagi sambil menunjukkan isi dompetnya,”lihat mama, nih aku kan punya uang.” Dalam hati mamanya tersenyum. “Kakak, emang cukup uang segitu buat beli baju.” Dengan mantap, dia menjawab,”Insya Allah cukup kok ma.” Ibunya sudah tidak bisa menahan rasa haru lagi. Dia peluk anaknya sambil berkata,”Makasih ya kakak, bukannya mama gak mau, mendingan uangnya ditabung aja ya, siapa tahu nanti teteh pengin sesuatu.” Anak itu memandang Ibunya dengan penuh keheranan,”Bener mama gak apa-apa.” Ibunya pun memandangnya sambil tersenyum,”bener nak, buat kakak aja ya.” Akhirnya dia hanya bisa tersenyum dan menutup kembali dompetnya.
     Dari peristiwa itu, mungkin kita bisa mengambil suatu hikmah bahwa ketulusan seseorang tidak bisa dinilai dari berapa besarnya jumlah bantuan yang dia berikan, tetapi ketulusan itu dilihat dari niatnya. Jadi teringat akan hadis Arbain yang menyebutkan bahwa “Sesungguhnya segala perbuatan itu tergantung akan niatnya…..” Akankah kita bisa setulus itu dalam memberikan bantuan atau apa sajalah kepada orang lain, padahal kita tahu mungkin barang yang akan kita berikan adalah sesuatu yang sangat kita cintai atau kita memang sedang membutuhkan barang tersebut. Wallahu a’lam.

From My Friend: Esti Suciningtyas Pratiwi

One thought on “Ketulusan Hati

  1. isyaAlloh nopo bae seng utah asl iklas lillahita’ala bakal utuh mas… NB; artine “utah” nku apa sja y kt berikan pd orang laen bakal dpt gantinya…hehe tul g mas..?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s